Berburu Kaus Berpeluh Pemain Dunia

Piala Dunia menjadi momen yang ditunggu kolektor kaus sepak bola. Sebagian dari mereka bukan sembarang kolektor. Mereka hanya berburu kaus yang benar-benar dipakai sang bintang di lapangan hijau, kaus dengan bau keringat bintang pujaan mereka.

Banyak pemain sepak bola memiliki kebiasaan bertukar kaus dengan pemain lawan seusai pertandingan. Banyak dari mereka menyimpannya, tetapi banyak juga kaus yang harus berakhir di gudang. Tak jarang kaus itu pun dijual.

Ada yang menjual karena butuh uang. Ada pula pemain yang menjualnya untuk kegiatan amal. Kaus-kaus inilah yang menjadi buruan kolektor.

Kolektor yang lebih beruntung bahkan bisa mendapatkan kaus itu langsung dari tangan pemain. Tak jarang ada pemain yang biasanya melemparkan kaus yang dikenakannya kepada penonton seusai pertandingan.

Di sela-sela Piala Dunia Brasil, kapten tim nasional Belgia, Vincent Kompany, melelang kaus yang dikenakannya ketika mengalahkan Aljazair, 2-1. Dia menjual kaus itu di toko online eBay yang hasilnya akan digunakan untuk kegiatan amal. Dibuka dengan harga 1 euro (sekitar Rp 16.000), penawaran paling tinggi hingga saat ini mencapai sekitar Rp 66 juta.

Kompany, yang juga melelang kaus saat dikenakan melawan Rusia, dalam akun Twitter-nya mengatakan, siapa pun di seluruh dunia boleh membeli kaus itu. Namun, dia tak menjelaskan itu sudah dicuci atau belum.

Hasil penjualannya akan disumbangkan untuk klub sepak bola kecil di kampung halamannya, BX Brussels. Hasilnya juga untuk yayasan yang bergerak di bidang perlindungan, pendidikan, dan kesehatan anak di negara berkembang yang bernama SOS Children’s Villages.

Tak pelak, kaus sang kapten menjadi buruan para penggemar kaus bekas pakai pemain. ”Sebuah kaus atau sepatu bekas pemain yang membuahkan gol di pertandingan penting, seperti Luis Suarez saat melawan Inggris atau ketika ada momen luar biasa, seperti Tim Cahill saat melawan Belanda, akan sangat dicari,” kata seorang kolektor dari Irlandia, Barry Rojack.

Beberapa dari ratusan kaus yang dia punyai dalam kondisi belum dicuci, bahkan masih ada bekas tanah dan rumput dari lapangan tempat si bintang bermain. Di antara kaus itu ada yang dipakai pemain Irlandia, Ray Houghton, saat mencetak gol dan menang melawan Italia, 1-0, di Piala Dunia 1994.

Dia juga memiliki kaus Damien Duff, pemain Irlandia, yang dikenakan saat melawan Spanyol di babak 16 besar Piala Dunia 2002. Ketika itu, Duff bertukar kaus dengan Luis Enrique yang kemudian memberikannya kepada Rojack. Saking berharganya kaus itu, Rojack sulit memperkirakan berapa harganya. ”Secara umum, kaus seorang pemain tak bisa dinilai seberapa berharganya sampai pertandingan usai, tergantung apa yang terjadi di lapangan,” katanya.

”Perkiraan kasar saja, kaus terbaik Piala Dunia mungkin dihargai mulai dari 400 euro (Rp 6,5 juta) hingga 2.000 euro (Rp 32,7 juta). Untuk beberapa kasus, jika beruntung, kaus bisa didapat dengan sangat mudah dan murah,” tutur Rojack.

Berbeda dengan seragam tim yang dijual di toko, mencari kaus bekas pakai pemain tidak mudah. Seorang kolektor harus memiliki ”kedekatan” dengan pemain. Mereka tak segan mendekati si atlet, agen, keluarganya, ataupun asosiasi sepak bola sebuah negara. Hal itu harus dilakukan demi mendapatkan barang yang terjamin keasliannya.

Apalagi, saat ini banyak orang memasarkan kaus bekas pemain melalui toko online. Ini menjadi tantangan bagi para kolektor untuk bisa memilih dengan cermat kaus yang asli atau palsu. Rojack sampai menganalogikan tantangan itu seperti mencari lukisan renaisans yang asli.

”Secara umum, kaus pemain sangat berbeda dengan seragam yang dijual di toko. Perbedaannya mulai dari logo sponsor yang biasanya lebih besar, nama pemain, nomor punggung, kualitas bahan, tempat kaus diproduksi, hingga kualitas sulaman pada lambang tim,” ujarnya.

Para kolektor itu juga tergabung dalam jaringan sesama penggemar kaus bekas pemain di seluruh dunia. Tak seperti kolektor lain, mereka tak begitu maniak berburu tanda tangan pemain.

”Coba lihat Pele. Dia mungkin sudah menandatangani setengah juta kaus atau bahkan lebih sepanjang hidupnya, tetapi dia mungkin hanya bermain tak lebih dari 200 laga. Jadi, kami hanya mengumpulkan kaus yang benar-benar bekas dipakai main,” ujar Rojack yang tengah berburu kaus bekas pakai yang masih berkeringat pemain di Brasil.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Powered by AduNasib | | Designed by: video game | Thanks to seo services and seo service