FBI Memaki Apple di Tengah Konferensi, Ada Apa?

Ilustrasi FBI.
Ilustrasi FBI.

Ilustrasi FBI. ( adunasib.com )

Ahli forensik Biro Penyelidikan Federal Amerika Serikat ( FBI), Stephen Flatley rupanya memendam rasa kesal terhadap Apple. Dalam sebuah konferensi internasional keamanan siber di Manhattan, New York, Amerika Serikat, Rabu pekan ini, dia dilaporkan memaki Apple dengan menyebut perusahaan gadget itu “berengsek” (jerk).

Apa pasal? Kekesalan FBI berakar dari sikap Apple ketika diminta bantu membuka kunci pengaman sebuah iPhone 5C milik Syed Farook, pelaku penembakan di California, Amerika Serikat, Desember 2015 lalu. Alih-alih dipenuhi, permintaan FBI justru ditolak mentah-mentah dengan alasan menjaga privasi pengguna.

Flatley juga mengeluhkan mekanisme sekuriti Apple yang belakangan dibuat jadi makin menyulitkan kerja biro penyelidik tersebut dengan membatasi kecepatan brute force (upaya menjebol password dengan menebak aneka kemungkinan kata kunci secara terus menerus).

Jumlah password yang bisa coba dimasukkan menurun dari 45 per detik menjadi hanya satu tiap 18 detik. Menurut Flatley, waktu yang diperlukan untuk menjebol password pun molor dari dua hari menjadi dua bulan.

“Sampai sejauh mana upaya semacam itu bisa disebut menerapkan peningkatan (keamanan) dan bukan menghalang-halangi kerja penegak hukum?” tanya Flatley kepada hadirin konferensi, sebagaimana dirangkum Adunasib.com dari ArsTechnica, Sabtu (13/1/2017). “Apple bagus sekali soal melakukan hal-halĀ evil genius,” imbuhnya.

Sikap sebaliknya ditunjukkan oleh Flatley terhadap Cellebrite, perusahaan asal Israel yang akhirnya mengulurkan tangan untuk membantu FBI menjebol iPhone 5C saat Apple tak mau melakukannya. Flatley memuji-muji Cellebrite yang menjual aneka perangkat dan teknologi peretasan untuk keperluan penegak hukum di seluruh dunia.

Demi keamanan konsumen

Konflik antara Apple dan FBI soal upaya menjebol iPhone 5C milik Farook sempat menjadi topik hangat di dunia teknologi pada 2016 lalu. Di satu sisi ada FBI yang berkepentingan meretas perangkat itu. Tentu bukan untuk tujuan jahat, melainkan keperluan penyelidikan.

Di sisi lain, Apple keukeuh tak mau membantu membuka kunci enkripsi iPhone lantaran menjunjung tinggi privasi dan kerahasiaan data para pengguna perangkatnya. Raksasa-raksasa teknologi lain seperti Alphabet, Microsoft, dan Facebook yang sama-sama memiliki prinsip serupa lantas berbaris membela Apple saat FBI ingin memaksakan permintaannya lewat pengadilan.

“Selama bertahun-tahun kami memakai enkripsi untuk melindungi data pribadi pengguna kami. Sebab, kami percaya itulah satu-satunya cara untuk menjaga informasi mereka agar tetap aman,” sebut Apple dalam sebuah pernyataan di situsnya, yang diunggah ketika konflik dengan FBI sedang panas-panasnya.

“Kami bahkan menempatkan data (pengguna) itu di luar jangkauan kami sendiri, karena meyakini bahwa konten yang tersimpan di iPhone Anda bukanlah urusan kami,” lanjut Apple dalam pernyataannya.

FBI menyebut perlindungan data melalui enkripsi yang tak bisa ditembus -termasuk oleh penegak hukum- merupakan masalah besar bagi keamanan publik. Dalam konferensi sekuriti yang sama dengan Flatley, Direktur FBI Christopher Wray mengungkapkan bahwa, di tahun fiskal 2017 saja, pihaknya sudah tak mampu mengakses data di 7.775 perangkat.

“Masing-masing dari hampir 7.800 perangkat itu terkait dengan subyek tertentu, terdakwa tertentu, korban tertentu, dan ancaman tertentu,” sebut Wray, sambil menambahkan bahwa pihaknya mendukung penggunaan enkripsi untuk melindungi data. Tapi, lanjut dia, perusahaan teknologi seharusnya membantu aparat penegak hukum yang butuh mengakses data terenkripsi.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Powered by AduNasib | | Designed by: video game | Thanks to seo services and seo service