Jelang Final Liga Champions, Rekor Minus Higuain di Partai Puncak

Gonzalo Higuain punya rekor minor ketika timnya berlaga pada partai final. Striker Juventus itu belum sekali pun mencetak gol pada partai puncak bersama Real Madrid, Napoli, maupun timnya saat ini.

Higuain punya hasrat besar untuk mengangkat trofi Si Kuping Besar pada final Liga Champions 2016-2017. Namun, striker Juventus itu dibayangi dengan sejumlah kegagalan pada partai puncak.

Pertandingan final antara Juventus dan Real Madrid bakal berlangsung emosional bagi Higuain. Selain punya hasrat besar untuk menjadi juara, dia juga untuk kali pertama menghadapi mantan klubnya.

Higuain membela Real Madrid antara 2007 dan 2013. Gelar juara liga dan Copa del Rey alias Piala Raja pernah diraihnya. Pada final 2010-2011, Real Madrid menang 1-0 atas Barcelona berkat gol Cristiano Ronaldo.

Satu yang alpa diraih bersama klub raksasa Spanyol tersebut adalah trofi Liga Champions.

Nahas bagi Higuain, pada musim pertamanya meninggalkan Stadion Santiago Bernabeu dan bergabung ke Napoli, Real Madrid meraih gelar ke-10 Liga Champions pada musim 2013-2014.

Melihat mantan rekan-rekannya mengangkat trofi Liga Champions, perasaan Higuain mungkin campur aduk antara gembira dan sedih. Namun, dia mencoba menghibur diri bahwa putusan pindah ke Napoli adalah tepat.

“Di sini, saya lebih berkembang,” ujar Higuain yang mendapat “penghiburan” dengan mengantarkan Napoli menjuarai Coppa Italia.

Akan tetapi, final Coppa Italia juga menunjukkan bahwa partai puncak kurang “bersahabat” bagi Higuain. Meski Napoli juara, Higuain sebagai pencetak gol terbanyak klub musim itu, gagal mencetak gol pada laga final.

Tabu pada laga puncak terus mengikuti Higuain. Berselang dua bulan setelah final Coppa Italia, Higuain berjasa mengantarkan tim nasional Argentina ke partai final Piala Dunia 2014.

Namun, Higuain lagi-lagi tak mencetak gol. Apesnya lagi, Argentina gagal menjadi juara dunia karena kalah 0-1 dari Jerman lewat perpanjangan waktu.

Berselang satu tahun setelah kegagalan di Piala Dunia 2014, pemain kelahiran 10 Desember 1987 itu kembali merasakan partai final. Kali ini, Tim Tango diantarkannya ke partai puncak Copa America 2015.

Higuain kembali bernasib sial, Argentina kalah dari tuan rumah Cile melalui adu penalti. Dia bisa saja dijadikan kambing hitam kegagalan Argentina karena menjadi salah satu dari dua eksekutor yang gagal penalti.

Pada Copa America Centenario 2016, lawan yang sama dihadapi Higuain dkk. Lagi, Tim Tango gagal di partai final lewat drama adu penalti.

Bedanya dengan 2015, Higuain tak terlalu merasa “bersalah” seperti kegagalan penalti sebelumnya. Dia sudah ditarik keluar oleh pelatih Gerardo Martino sebelum waktu normal habis.

Selepas Copa America Centenario, Higuain hijrah dari Napoli ke Juventus. Dia memecahkan rekor transfer pemain di Serie A – kasta teratas Liga Italia.

Bersama Juventus, Higuain meneruskan periode keemasannya. Dia merasakan gelar juara Serie A dan menyandingkannya dengan Coppa Italia.

Hanya, khusus Coppa Italia, Higuain masih belum bisa memutus tabu gol. Juventus menang 2-0 tetapi bukan Higuain yang mencetak gol.

Kini, final kedua musim ini dihadapi oleh Higuain. Bisakah dia mencetak gol dan mengantarkan Juventus menjadi juara?

Dia tentu berharap Juventus bisa menjadi juara, tak masalah sekalipun dirinya tak mencetak gol.

Higuain tentu tak ingin menjalani musim panas dalam tiga tahun beruntun dengan kegagalan di partai puncak…

“Jika kami kalah di final, jangan mewawancarai saya,” kata Higuain mengingatkan wartawan jelang final Liga Champions.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Powered by AduNasib | | Designed by: video game | Thanks to seo services and seo service